Posted by
hesty,
Published on
14 September 2009

Aku tak mengira rahasia yang telah kusimpan rapat-rapat terbongkar sudah. Tak ingin semua orang tahu tentang rahasiaku. Tapi apa gunanya nasi sudah menjadi bubur dan aku tahu bahwa aku yang salah. aku hanya bisa merenung meratapi nasib. Akankah ada cahaya untukku yang menuntunku kembali pada pelukan kedamaian. Aku berdoa dan aku berharap!
Posted by
hesty,
Published on
28 Agustus 2009

Tiba-tiba saja tanganku mulai bergerak. Aku tak kuasa menahannya sepertinya ada yang mengendalikan pikiranku. Aku mulai mencari-cari bahan untuk merakit sebuah bom. Tanganku yang mungil dengan cekatan mulai meracik bahan-bahan. Aku heran kenapa aku tidak kuasa menahan tanganku untuk menghentikan apa yang sedang aku lakukan. Ini aneh !
Tepat pukul 00.00 sudah ada bom di tanganku dan aku mulai menyeringai. Aku mulai memasukkan bom itu hati-hati ke dalam tasku, kubuka pintu kamar dan aku mulai berjalan.
Suara burung hantu mengiringi langkahku. Entah aku juga tidak tahu kemana langkahku akan pergi. Yang pasti langkahku menuju sebuah tempat yang sedang ada kerumunan orang. Aku berusaha menghentikan langkahku, namun aku tak kuasa !
Tempat yang kutuju semakin dekat, riuh rendah suara musik tradisional terdengar. Orang-orang sedang asyik menimati persembahan gerak dan lagu. Dan aku aku melangkah di antara mereka. Tak ada yang perhatikan aku saat aku berada di belakang panggung pentas itu.
Tiba-tiba tanganku mulai menjamah tasku dan membukanya. Oh Tuhan, apa yang aku lakukan, aku mulai mengatifkan bom yang aku buat.
Oh Tuhan.. jangan lakukan ini, kumohon kumohon. Aku berteriak keras tapi aku tak kuasa menghentikan seringai bibirku, Tanganku bergerak cepat, aku menjerit meminta tolong.
Aku tersadar ! ini adalah bagian tubuh bawah sadarku yang menguasaiku. Ia ingin balas dendam karena sakit hati yang terperi, Aku sadar ia tak pernah memaafkan, meski mulutku telah mengucapkan beribu-ribu kata maaf.
Posted by
hesty,
Published on
28 Agustus 2009
Aahh…
Detak jam dinding terdengar di malam sepi ini
Tak…tik…tak…tik..tak…tak..taik…
Ku helai napas panjang
Ku terdiam dan mulai terdengar detak jantungku
Dug…dug…dug…dug…dug…
Kubaringkan tubuh ini
Tapi tetap saja pikiranku melayang
Membawa tubuhku di peraduanmu

Mata Hati
Aku melihat lewat mata hatiku… kau ada di sana
Aku mendengar jeritan mata hatiku… tanpamu ku kan hampa
Aku rasakan sentuhan mata hatiku… dengan cintamu aku hidup
Posted by
hesty,
Published on
26 Agustus 2009
Aku duduk bersandar pada sebuah pohon yang mulai rapuh. Melihat ke langit, lebih tepatnya menerawang…di sana di atas sana kucermati hamparan langit biru…
“Ah indahnya..”gumanku.
Tiba-tiba terdengar bunyi nada es wall… tu lalit… tu lalit… tu lalit… ya begitulah kira-kira bunyinya. Aku mencari bunyi suara itu, kulihat seorang pemuda yang menggoes sepedanya lambat lambat. Ia begitu legam di balik topinya yang berwarna kuning.
“Mbak beli es, mbak.. enak lho panas-panas?” tanyanya kepadaku.
Aku hanya diam mengamati wajah legamnya. Diam dan terus mengamatinya tanpa senyum, tanpa ekspresi.
1… 2… 3…menit kemudian
“Mbak… lagi ngelamun ya… mbak……mbak…” jeritnya yang heran sekaligus penasaran dengan aku.
Aku tetap diam… dan detik berikutnya ketika dia hampir menyentuhku…aku berteriak..
“Baaaaaaaaaaaa… kena deh lo… hehehehehe kaget ya….!!!
Posted by
hesty,
Published on
26 Agustus 2009
Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!